www.wikidata.id-id.nina.az
Operation Product bahasa Indonesia Operasi Produk atau yang dikenal di Indonesia dengan nama Agresi Militer Belanda IAgresi Militer Belanda IOperation ProductBagian dari Revolusi Nasional IndonesiaSearah jarum jam dari kiri atas Pasukan Belanda di Ambarawa Pembakaran rumah sektor di Cheribon Pasukan Kejut Batalyon di Baturadja Sumatera Selatan Salah satu gudang pelabuhan Tegal yang hancurTanggal21 Juli 05 Agustus 1947 1947 08 05 LokasiJawa dan SumatraHasilKemenangan BelandaPerubahanwilayahPasukan Belanda merebut kembali pusat perekonomian Sumatra dan Pelabuhan JawaPihak terlibat Indonesia NetherlandsTokoh dan pemimpinSoedirmanOerip SoemohardjoSimon Hendrik SpoorHubertus van MookPasukan3 Divisi di Jawa 3 Brigade di SumatraKekuatan 200 000 120 000adalah operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatra terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947 Operasi Produk merupakan istilah yang dibuat oleh Letnan Gubernur Jenderal Johannes van Mook yang menegaskan bahwa hasil Perundingan Linggarjati pada tanggal 25 Maret 1947 tidak berlaku lagi 1 Operasi militer ini merupakan bagian dari Aksi Polisionil yang diberlakukan Belanda dalam rangka mempertahankan penafsiran Belanda atas Perundingan Linggarjati Dari sudut pandang Republik Indonesia operasi ini dianggap merupakan pelanggaran dari hasil Perundingan Meja Bundar Daftar isi 1 Latar Belakang Kejadian 2 Dimulainya operasi militer 3 Campur tangan PBB 4 Referensi 5 Lihat pulaLatar Belakang Kejadian SuntingKemenangan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya menyebabkan Belanda harus meninggalkan Indonesia pada tahun 1942 Setelah itu Indonesia dijajah oleh Jepang hingga pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia menyatakan Kemerdekaannya Pada tanggal 23 Agustus 1945 Pasukan Sekutu dan NICA mendarat di Sabang Aceh Mereka tiba di Jakarta pada 15 September 1945 Selain membantu Sekutu untuk melucuti tentara Jepang yang tersisa NICA di bawah pimpinan van Mook atas perintah Kerajaan Belanda membawa kepentingan lain yaitu menjalankan pidato Ratu Wilhelmina terkait konsepsi kenegaraan di Indonesia Pidato pada tanggal 6 Desember 1942 melalui siaran radio menyebutkan bahwa di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran antara Kerajaan Belanda dan Hindia Indonesia di bawah naungan Kerajaan Belanda Perjanjian resmi pertama yang dilakukan Belanda dan Indonesia setelah kemerdekaan adalah Perundingan Linggarjati Van Mook bertindak langsung sebagai wakil Belanda sedangkan Indonesia mengutus Soetan Sjahrir Mohammad Roem Susanto Tirtoprojo dan A K Gani Inggris sebagai pihak penengah diwakili oleh Lord Killearn Namun realisasi di lapangan tidak sepenuhnya berjalan mulus hingga Pada tanggal 15 Juli 1947 van Mook mengeluarkan ultimatum supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km dari garis demarkasi Pimpinan RI menolak permintaan Belanda tersebut Pada tanggal 20 Juli 1947 Van Mook menyatakan melalui siaran radio bahwa Belanda tidak terikat lagi pada hasil Perundingan Linggarjati Kurang dari 24 jam setelah itu Agresi Militer Belanda I pun dimulai Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam terutama minyak Namun sebagai kedok untuk dunia internasional Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri Pada saat itu jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100 000 orang dengan persenjataan yang modern termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh tentara Inggris dan tentara Australia Dimulainya operasi militer SuntingKonferensi pers pada malam 20 Juli di istana di mana Gubernur Jenderal Ilham Ard mengumumkan pada wartawan tentang dimulainya Aksi Polisionil Belanda pertama Serangan di beberapa daerah seperti di Jawa Timur bahkan telah dilancarkan tentara Belanda sejak tanggal 21 Juli malam sehingga dalam bukunya J A Moor menulis agresi militer Belanda I dimulai tanggal 20 Juli 1947 Belanda berhasil menerobos ke daerah daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia di Sumatra Jawa Barat Jawa Tengah dan Jawa Timur Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat yaitu Sumatra Timur Jawa Tengah dan Jawa Timur Di Sumatra Timur sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara dan di Jawa Timur sasaran utamanya adalah wilayah yang terdapat perkebunan tebu dan pabrik pabrik gula Pada agresi militer pertama ini Belanda juga mengerahkan kedua pasukan khusus yaitu Korps Speciale Troepen KST di bawah Westerling yang kini berpangkat Kapten dan Pasukan Para I 1e para compagnie di bawah Kapten C Sisselaar Pasukan KST pengembangan dari DST yang sejak kembali dari Pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan belum pernah beraksi lagi kini ditugaskan tidak hanya di Jawa melainkan dikirim juga ke Sumatera Barat Agresi tentara Belanda berhasil merebut daerah daerah di wilayah Republik Indonesia yang sangat penting dan kaya seperti kota pelabuhan perkebunan dan pertambangan Pada 29 Juli 1947 pesawat Dakota Republik dengan simbol Palang Merah di badan pesawat yang membawa obat obatan dari Singapura sumbangan Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh Belanda dan mengakibatkan tewasnya Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisucipto Komodor Muda Udara dr Abdulrahman Saleh dan Perwira Muda Udara I Adisumarno Wiryokusumo Campur tangan PBB SuntingPemerintah Republik Indonesia secara resmi mengadukan agresi militer yang dilakukan oleh Belanda ke PBB karena agresi militer tersebut dinilai telah melanggar suatu perjanjian Internasional yaitu Persetujuan Linggarjati Belanda ternyata tidak memperhitungkan reaksi keras dari dunia internasional termasuk Inggris yang tidak lagi menyetujui penyelesaian secara militer Atas permintaan India dan Australia pada 31 Juli 1947 masalah agresi militer yang dilancarkan Belanda dimasukkan ke dalam agenda Dewan Keamanan PBB PBB langsung merespons dengan mengeluarkan resolusi tertanggal 1 Agustus 1947 yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata dihentikan PBB mengakui eksistensi RI dengan menyebut nama Indonesia bukan Netherlands Indies atau Hindia Belanda dalam setiap keputusan resminya 1 Sejak resolusi pertama yaitu resolusi No 27 tanggal 1 Augustus 1947 kemudian resolusi No 30 dan 31 tanggal 25 Agustus 1947 resolusi No 36 tanggal 1 November 1947 serta resolusi No 67 tanggal 28 Januari 1949 Dewan Keamanan PBB selalu menyebutkan konflik antara Republik Indonesia dengan Belanda sebagai The Indonesian Question Atas tekanan Dewan Keamanan PBB pada tanggal 15 Agustus 1947 Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran Pada 17 Agustus 1947 Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda menerima Resolusi Dewan Keamanan untuk melakukan gencatan senjata dan pada 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan membentuk suatu komite yang akan menjadi penengah konflik antara Indonesia dan Belanda Komite ini awalnya hanyalah sebagai Committee of Good Offices for Indonesia Komite Jasa Baik Untuk Indonesia dan lebih dikenal sebagai Komisi Tiga Negara KTN karena beranggotakan tiga negara yaitu Australia yang dipilih oleh Indonesia Belgia yang dipilih oleh Belanda dan Amerika Serikat sebagai pihak yang netral Australia diwakili oleh Richard C Kirby Belgia diwakili oleh Paul van Zeeland dan Amerika Serikat menunjuk Dr Frank Graham Gencatan senjata akhirnya tercipta akan tapi hanya untuk sementara Belanda kembali mengingkari janji dalam perjanjian yang disepakati berikutnya dengan menggencarkan operasi militer yang lebih besar pada 19 Desember 1948 operasi militer tersebut dikenal dengan Agresi Militer Belanda II 1 Referensi Sunting a b c Agresi Militer I Saat Belanda Mengingkari Perjanjian Linggarjati Tirto id Diakses tanggal 2018 07 29 Lihat pula Sunting nbsp Wikimedia Commons memiliki media mengenai Operatie Product Agresi Militer Belanda II Aksi Polisionil Diperoleh dari https id wikipedia org w index php title Agresi Militer Belanda I amp oldid 24355343